Select Page

Sebelum membahas tentang mitigasi risiko, ada baiknya untuk mengetahui apa itu mitigasi, dan apa itu risiko terlebih dahulu. Jokowinarno (2009) memberikan definisi mitigasi merupakan tindakan-tindakan untuk mengurangi atau meminimalkan potensi dampak negatif dari suatu bencana. Sedangkan Alijoyo (2006) memberikan definisi risiko berdasarkan dua sudut pandang:

  • Sudut pandang hasil atau output, risiko adalah “sebuah hasil atau output yang tidak dapat diprediksikan dengan pasti, yang tidak disukai karena akan menjadi kontra produktif”.
  • Sudut pandang proses, risiko adalah “faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan, sehingga terjadi konsekuensi yang tidak diinginkan”.

Perencanaan mitigasi risiko adalah proses pengembangan opsi dan tindakan untuk meningkatkan peluang dan mengurangi ancaman terhadap tujuan proyek. Implementasi mitigasi risiko adalah proses pelaksanaan tindakan mitigasi risiko. Standar manajemen risiko COSO Integrated Framework 2004 maupun ISO 31000:2009 menyebutkan 4 strategi mitigasi risiko, yaitu:

  1. Hindari (avoid)
  2. Kurangi (reduce)
  3. Berbagi dengan pihak ketiga (share)
  4. Terima (accept)

Ada beberapa alasan mengapa perusahaan perlu melakukan mitigasi risiko. Diantaranya:

  1. Karena merupakan proses dalam Manajemen Risiko yang tidak dapat dipisahkan. Salah satu proses manajemen risiko setelah tahap asesmen risiko adalah penyusunan rencana mitigasi/respons risiko.
  2. Karena perusahaan perlu mengambil sikap setelah mendapatkan informasi mengenai risiko yang akan dihadapi. Dalam proses mitigasi risiko ini, perusahaan harus menyusun serangkaian rencana aksi penanganan guna memperkecil eksposur risiko. Tentu sebuah tindakan yang fatal jika perusahaan melakukan identifikasi risiko, dan melakukan penilaian terhadap risiko yang akan dihadapi, namun tidak menanggapi risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan.

Oleh karenanya, secara tidak langsung perusahaan diharuskan untuk melakukan mitigasi risiko. Karena akan sia-sia analisis risiko yang dilakukan jika tidak dilakukan tindakan apapun untuk mengatasi risiko.

 

Risiko Yang Terjadi Pada Industri Logistik

Didunia kita saat ini, terdapat berbagai konflik yang terjadi di berbagai tempat. Hal ini membawa dampak kepada industri logistik di Indonesia. Untuk menghadapi risiko yang akan terjadi, maka diperlukan strategi yang matang dan jelas.

Risiko yang dihadapi pada industri logistik misalnya adalah ketidakstabilan pasar serta tingginya risiko terjadinya kriminalitas pada transportasi. Hal tersebut dapat menimbulkan potensi kerugian pada perusahaan. Potensi timbulnya risiko ini harus bisa diatasi dengan melakukan manajemen risiko agar dampak yang ditimbulkan jika risiko tersebut terjadi dapat di perkecil bahkan mungkin dihindari.

Beberapa contoh risiko yang terjadi pada industri logistik antara lain:

  1. Keterlambatan
  2. Pencurian
  3. Pembajakan
  4. Kurangnya penerapan prosedur keamanan
  5. Vendor transportasi yang bangkrut
  6. Ketidaktersediaan inventory
  7. Regulasi baru yang mempengaruhi indusri logistik

Untuk melakukan mitigasi risiko, maka yang harus dilakukan pertama kalia adalah mengidentifikasi risiko yang terkait dengan logistik. Kemudian lakukan penilaian terhadap risiko tersebut dan selanjutnya memilih metode apa yang akan dipakai untuk menghadapi risiko yang muncul. Selain itu juga diperlukan skenario ketika menghadapi risiko muncul.

Beberapa hal yang harus dilakukan pada penerapan manajemen risiko antara lain:

  1. Melakukan pemetaan terhadap mata rantai pasok
  2. Melakukan evaluasi terhadap risiko, ancaman serta proses melakukan penyelematan jika risiko terjadi.
  3. Melakukan uji kelayakan
  4. Melakukan desain terhadap prosdur keamanan
  5. Manajemen krisis
  6. Monitoring dan tracking
  7. Audit Eksternal

Referensi